Nadal Berhasil Singkirkan Federer di US Open Tahun Sebelumnya

kabar datang dari olahraga tenis. Kali ini kabar datang dari petenis asal Australia, John Millman yang berhasil mempermalukan petenis nomor 3 dunia saat ini, yaitu Roger Federer di babak keempat US Open.

Nadal Singkirkan Federer

Akan tetapi Rafael Nadal mempu menghindari nasib yang sama di ajang US Open tahun ini. petenis yang sekarang duduk di ranking 2 dunia tersebut menang dengan sangat mudahnya melawan Millman di duel 3 set langsung di babak pertama US Open 2019 yang dilangsungkan di Arthur Ashe Stadium tepatnya hari ini, Rabu (28/8).

Nadal berhasil menyapu bersih 3 set sekaligus dengan skor 6-3, 6-2, 6-2 selama waktu 127 menit. Hal ini kemudian membuatnya mampu menjaga rekor kemenangan di babak pertama Grand Slam US Open. Dirinya selama ini selalu menang di 15 buah pertandingan babak pertama US Open.

“Saya amat sangat senang dengan kemenangan ini dan kembali lagi ke New York,” kata Nadal dilansir dari Kompas.com. walaupun mudah menang, pemain yang berkebangsaan Spanyol ini belum merasa puas dengan performanya.

“Pertandingan pertama saya selalu buruk. Meskipun saya sudah bermain di sini berkali-kali, awalan itu selalu tidak mudah. Servisnya bekerja dengan baik mala mini, walaupun backhand saya tak sebagus biasanya. Saya sangat senang,”  imbuhnya.

Padahal sebelumnya lawannya itu berhasil mencetak kemenangan totobet ke-100 di US Open. Di usianya yang tak lagi muda, Federer bisa dikatakan masih mampu berjaya. Petenis tunggal putra yang berasal dari Swiss itu berhasil membuktikannya dengan mencetakkan kemenangannya yang ke-100 di US Open pada hari Selasa (27/8) lalu.

Di set pertama, memang ia sempat kalah. Namun petenis berusia 38 tahun tersebut segera langsung bangkit. Di tiga set berikutya ia langsung menang dengan skor 6-1, 6-2, dan 6-4. Ini menjadikan kemenanga ke-100 di sepanjang karirnya di US Open. Namun sayang, Nadal menghentikan impian dan langkah Federer.

Di pertandingannya yan g berikutnya, ia akan berjumpa lagi dengan petenis asal Australia. Pemain 33 tahun ini pasalnya harus bisa menaklukkan Thanasi Kokkinakis pada babak 32 besar.

Sebelumnya Kokkinakis menang dalam pertarungan 4 setnya melawan Ilya Ivashka dengan skor yakni 6-3, 7-6(8), 6-7 (4) dan 6-2. Walaupun di atas kertas bisa dikatakan rangking Nadal jauh dari Kokkinakis karena ia berada di urutan 203 dunia, petenis bertangan kidal tersebut tidak ingin meremehkan lawannya.

“Saat anda memulai turnamen, Anda memiliki lawan yang amat sangat sulit di depan. Anda mesti memberikan perlawanan di lapangan dan juga respek pada tiap lawan,”  katanya ketika ditanyai soal itu.

“Saya berdiri di lapangan hari ini untuk melawan lawan-lawan yang tangguh, dan mesti bermain bagus untuk bisa menang. Apabila anda bermain buruk, anda bisa kalah.”

Sementara itu, hasil yang bisa dikatakan cukup mengejutkan malah diciptakan dari pertandingan antara Thomas Fabbiano melawan unggulan ke-4 US Open 2019, Dominic Thiem. Dominic harus mau tersingkir duluan di babak pertama setelah ia ditekuk oleh pemain asal Austria itu dengan skor 4-6, 6-3, 3-6 dan 2-6.

Pada pertandingan yang lainnya, unggulan ke-5, Alexander Zverev harus mau bekerja keras untuk bisa melewati babak pertamanya. Dirinya dipaksa untuk bermain 5 set melawan Radu Albot, sebelum pada akhirnya bisa menang dengan skor 6-1, 6-3, 3-6, 4-6, dan 6-2.

Read More

Sanksi yang Menjadi Nikmat Bagi Chelsea

Kabar menggembirakan datang dari Chelsea yang berhasil meraih kemenangan di pekan ketiga Liga Inggris 2019/2020. Selain mendapatkan poin perdananya, kemenangan The Blues ini terasa sangat spesial karena berhasil diraih saat Frank Lampard memosisikan starter dengan usia 24 tahun 208 hari atau yang paling muda sejak tahun 1994 silam.

Sanksi yang Berujung Nikmat

Liga Inggris musim ini memang berbeda untuk The Blues. Hukuman dari FIFA yang mana berupa pembelian pemain baru dalam 2 bursa transfer, yakni di awal musim dan tengah musim, membuat klub yang asalnya dari London ini bisa mengubah cara membangunt timnya.

Mau tak mau, suka atau tidak suka, Chelsea mesti memaksimalkan pemain-pemain mudanya. Sebetulnya The Blus memang tak Cuma berisikan pemain muda yang masih hijau namun minim pengalaman saja. Mereka juga memiliki pemain-pemain senior misalnya Oliver Giroud, Willian, Ross Barkley, Mateo Kovacic, N’Golo Kante, Jorginho, Cesar Azpilicueta, dan juga Marcos Alonso yang sudah memiliki jam terbang tinggi.

Cuma, untuk menambah kekuatan timnya, Chelsea yang sudah memiliki 6 gelar juara Liga Inggris itu tak bisa seenaknya saja mendatangkan pemain. Setelah Eden Hazard dan Alvaro Morata pergi, kemudian disusul oleh David Luiz, nampaknya Chelsea tak bisa sembarangan mencari pemain apalagi jika ingin mencari yang sepadan.

Selain Christian Pulisic yang mana dibeli sebelum pelarangan transfer resmi yang berlaku, Chelsea pasalnya mulai memulai proyek totobet pemain muda dengan pelatih muda juga. Frank Lampard, yang mana tak lain adalah mantan kapten tim yang jadi legenda di Stanford Bridge, diberikan kepercayaan mematangkan pemain-pemain muda belia yang ada di The Blues.

Mason Mount, Christian Pulisic, dan Tammy Abraham, misalnya yang masih berusia di bawah 23 tahun, sudah menjadi andalan baru Chelsea. Dalam 3 laga awal Chelsea yang ada di Liga Inggris, 3 pemain itu selalu dikeluarkan dan tampil memuaskan.

Namun ternyata tidak hanya 3 pemain itu saja, ada juga pemain-pemain muda lainnya yang belum mendapatkan kesempatan tampil. Kesempatan tersebut belum diberikan oleh Lampard untuk pemain-pemain seperti Robert Kenedy, Reece James, Fikayo Tomori, Ruben Loftus-Cheek, dan juga Callum Hudson-Odoi.

Chelsea yang memulai musimnya dengan pelatih baru dan pemain-pemain muda memang tidak bisa dikatakan bisa berleha-leha. Kekalahan telak yang dialami mereka saat kalah melawan Manchester United di laga pembuka adalah bagian proses adaptasi. Di pertandingan tersebut, anak-anak asuh Lampard ini bisa dikatakan tak mengecewakan. Bahkan permainan Chelsea ini bahkan memunculkan ancaman di lini pertahanan MU.

Setelah kekalahan dari Manchester United, Lampard melakukan perubaan saat menghadapi Liverpool pada ajang Piala Super Eropa. Lagi-lagi, Chelsea sebenarnya tak tampil buruk. Namun tetap saja, hasil akhirnya tak berpihak pada juara bertahan Liga Europa tersebut.

Perpaduan pemain yang tua dan muda  yang mana diformulasikan oleh Lampard lalu menghasilkan poin pertamanya di Liga Inggris saat bermain imbang melawan Leicester City. Kemenangan perdana yang mana dirayakan oleh Mount, Abraham serta kawan-kawan lainnya saat bertandang ke Stadion Carrow Road, markas Norwich City.  Dua kali unggu dan dua kali dikejar juga, namun Chelsea menuntaskan laga dengan skor yang cukup baik, 3-2. Dalam pertandingan itu, Lampard menampilkan starter termuda kedua sepanjang sejarah Chelsea dalam 25 tahun terakhir. Usia rata-rata pemain intinya sangat muda, yaitu 24 tahun 208 hari

Read More